Wednesday, February 26, 2014

Menulis Puisi Berasosiasi Realitas Objek

Istilah realitas objektif  ini berasosiasi dengan objek langsung, objek konkret dan realitas kehidupan. Menurut Djojosuroto (2009:21) menulis kreatif puisi melalui realitas objektif adalah menulis puisi yang bahannya bersumber dari peristiwa yang pernah dialami, dilihat, didengar, atau dibaca. Pengalaman-pengalaman pribadi tersebut dapat menjadi sumber inspirasi penulisan puisi.
Sehubungan dengan hal tersebut Tjahjono (2003:37) mengatakan bahwa bahan puisi adalah realitas kehidupan dan pengalaman sehari-hari. Lebih lanjut beliau mencontohkan, ketika duduk di kamar tamu, di luar hujan, air hujan jatuh dari jendela, dapat ditulis puisi:
SAJAK HUJAN
Kaki-kaki hujan
Memukuli kaca jendela
Tik-taknya sampai ke dalam
Jiwa
(Tjahjono,2003:37)
Istilah lain yang berasosiasi dengan istilah realitas objektif adalah objek konkret. Setiawan, dkk. (2003:14) menjelaskan bahwa objek konkret dapat menjadi sumber inspirasi penulisan puisi. Objek konkret yang diindrai misalnya gunung, pengemis, penjaja koran, kupu-kupu, anak sekolah, dan yang lain dapat dijadikan bahan pokok penulisan puisi. Caranya adalah dengan mendeskripsikan seluk beluk objek tersebut. Pendeskripsian tersebut sebaiknya dilakukan dengan bahasa yang emotif.
Di samping istilah objek konkret, istilah lain yang berasosiasi dengan realitas objektif adalah objek langsung. Suyatno (2004:132) mengatakan bahwa menulis puisi dengan objek yang dilihat secara langsung dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Dalam pembelajaran di kelas siswa diajak ke luar kelas untuk melihat objek yang mereka senangi kemudian menuliskannya ke dalam puisi.
Dalam proses penciptaan puisi juga dapat dilihat bagaimana sikap penyair dalam mengahadapi realitas sebagai bahan penulisan. Tjahjono (2003:47) mengelompokkannya menjadi empat. Penjelasan dan concohnya adalah sebagai berikut.
Pertama, penyair sebatas merekam peristiwa atau fenomena alam. Contohnya seperti terlihat dalam puisi Hazim Amir berikut ini.
KESENDIRIAN
seorang anak tidur gelisah
ketika tangan kecilnya menggapai-gapai kesebelah
tak didapatinya ibunya di sana
(Tjahjono, 2003:47)
Kedua, penyair memakai realitas sebagai media untuk mengungkapkan gagasan atau perasaan tertentu. Contohnya seperti dalam puisi Tengsoe Tjahjono berikut.
GELAS AQUA DI SELAT MADURA
ketika feri meninggalkan dermaga kepingan-kepingan
ombak menjelma celurit mematuk-matuk buritan. ada darah
mengaliri udara di sela teriakan para asongan melawan
bau keringat dan bising yang liat
.... (Tjahjono, 2003:47)
Ketiga, gagasan yang dikemukakan oleh penyair secara telanjang dan terbuka, seperti dalam puisi kutipan puisi Aming Aminoedin dalam Tjahjono (2003:51) berikut.
TELEVISI
kotak kaca ajaib itulah
yang telah menyulap tingkah
anakku jadi pandai
berulah
kotak ajaib itu pula
yang menjadi guru
bagi anak-anakku
bertingkah laku
melangkahkan sopan santun
jadi tak beruntun
... Keempat, gagasan atau realitas diungkapkan dengan mendayagunakan potensi bahasa yang unik dan menarik. Contohnya dapat dilihat pada puisi-Tengsoe Tjahjono berikut.
REQUIEM AETERNAM
secuil lempung ini kubuat bentuk tubuhmu lamat-lamat
kusuruh menyanyi menari bersama gesekan biola
yang menerjemahkan kata-kata bersama bulan yang miskram
telah disiapkan sebuah tempayan bolong pantatnya
menadahi ceceran-ceceran air mata menjelma mata air
yang kau pakai berkubang saban hari
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa menulis puisi dengan realitas objektif adalah menulis puisi yang bersumber dari pengalaman secara langsung melalui pengindraan objek-objek konkret. Langkah-langkahnya yaitu dengan menggamati objek secara langsung, memperkaya kosakata, merangkai kata-kata, menggunakan imajinasi kreatif, dan menuliskannya dalam wujud puisi. Dalam proses penciptaannya, realitas pengalaman tersebut dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu (1) realitas digunakan sebatas merekam peristiwa atau fenomena alam, (2) realitas digunakan sebagai media untuk mengungkapkan gagasan atau perasaan tertentu, (3) relitas digunakan secara telanjang dan terbuka, dan (4) realitas digunakan dengan mendayagunakan potensi bahasa yang unik dan menarik.
Teori Multiple Intelligences (MI) dalam penelitian ini berangkat dari teori Dr. Howard Gardner, guru besar di bidang Psikologi dan Pendidikan dari Harvard University. Kata multiple jika penulisannya diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi multi berarti banyak dan intelligence menjadi inteligensi atau kecerdasan. Beberapa penulis Indonesia menerjemahkan multiple intelligences ke dalam bahasa Indonesia berarti kecerdasan majemuk, kecerdasan berganda, dan ada pula yang menerjemahkan dengan kecerdasan beragam.
Menurut Gardner (2003:22) kecerdasan (intellegence) adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah, atau menciptakan produk yang berharga dalam satu atau beberapa lingkungan budaya dan masyarakat. Dalam defenisinya ini, Gardner tidak menyinggung apakah kecerdasan merupakan sifat bawaan atau di kembangkan. Melihat defenisi kecerdasan yang dikemukan Gardner tersebut, jelas sekali teorinya lebih menekankan pada kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau produk bukan pada yang lain seperti tes IQ.
Gardner (2003:23) dalam bukunya “Multiple Intelegences” mengklasifikasikan kecerdasan ke dalam tujuh jenis. Ketujuh jenis kecerdasan tersebut adalah bahasa (linguistik), logika-matematika, ruang (spasial), musik, gerak badan (kinestetik), antarpribadi, dan intrapribadi. Kemudian Brown (2007:116) menjelaskan bahwa Gardner telah menambah satu lagi kecerdasan yaitu kecerdasan naturalis, dan kemungkinan lebih jauh akan muncul kecerdasan spritual, eksistensional, dan moral. Dengan demikian, sekarang teori Gardner tentang MI ini ada delapan kecerdasan. Kecerdasan yang dimaksud adalah bahasa (linguistik), logis-matematis, ruang (spasial), musikal, gerak badan (kinestetik), antarpribadi (interpersonal), intrapribadi (intrapersonal), dan lingkungan (naturalis). Sehubungan dengan hal tersebut, dalam penelitian ini digunakan delapan kecerdasan yang paling populer. Penjelasan delapan kecerdasan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Kecerdasan Bahasa (Linguistik)
Uno dan Kuadrat (2009: 12) mengatakan bahwa kecerdasan linguistik memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasannya. Menurut Hoer (2007:18), siswa yang memiliki kecerdasan linguistik senang melakukan hal-hal seperti menulis cerita dan essai, menceriatakan lelucon, cerita, plesetan, menggunakan kosakata luas, bermain word game, menggunakan kata untuk menggambarkan sebuah cerita.
2. Kecerdasan Logis Matematis
Menurut Gardner (2003:23) kecerdasan logis matematis adalah kemampuan seseorang pada logika dan matematika. Uno dan Kuadrat (2009:11) menjelaskan kecerdasan logis matematis memuat kemampuan seseorang dalam berpikir secara induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir. Peserta didik dengan kecerdasan logis matematis tinggi cenderung menyenangi kegiatan menganalisis dan mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu. Ia menyenangi berpikir secara konseptual, misalnya menyusun hipotesis, dan mengadakan ketegorisasi, dan klasifikasi terhadap apa yang dihadapinya.Peserta didik semacam ini cenderung menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan problem matematika. Apabila kurang memahami, mereka akan cenderung berusaha untuk bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya tersebut. Peserta didik ini juga sangat menyukai berbagai permainan yang banyak melibatkan kegiatan berpikir aktif, seperti catur dan bermain teka-teki.
3. Kecerdasan Visual (Spasial)
Gardner (2003:24) mendefinisikan kecerdasan ruang adalah kecerdasan kemampuan membentuk model mental dari dunia ruang dan mampu melakukan berbagai tindakan dan operasi menggunakan model itu. Santrock (2010:25) menambahkan, kemampuan ini adalah kemampuan berpikir tiga dimensi. Hoer (2007:19) menggolongkan kecerdasan ini berkaitan dengan kesenangan siswa mencoret-coret, melukis atau menggambar, menciptakan tampilan tiga dimensi, mengamati dan menciptakan peta dan diagram, membongkar dan menyusun kembali barang-barang.
4. Kecerdasan Musikal
English (2005:52) mendefinisikan kecerdasan musikal adalah kecerdasan yang terkait dengan bahasa yang diukur dengan sensitivitas yang dimiliki seseorang terhadap susunan suara dan kemampuan merespon pola-pola suara ini secara emosional. Kecerdasan ini berkembang saat orang mulai belajar pola titinada, nada, warna, dan irama. Selanjutnya Uno dan Kuadrat (2009:12) menjelaskan bahwa kecerdasan musikal adalah kecerdasan yang memuat kemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada disekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama. Peserta didik jenis ini cenderung senang sekali mendengarkan nada dan irama yang indah, entah melalui senandung yang dilagukannya sendiri, mendengarkan tape recorder, radio, pertunjukan orkestra, atau alat musik yang dimainkannya sendiri. Mereka juga lebih mudah mengingat sesuatu dan mengekspresikan gagasan-gagasan apabila dikaitkan dengan musik.
5. Kecerdasan Kinestetis
Gardner (2003:24) mendefinisikan kecerdasan kenestetis (gerakan badan) adalah kemampuan menyelesaikan masalah atau produk mode menggunakan seluruh badan seseorang atau sebagian badan. Uno dan Kuadrat (2009:13) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan kinestetis adalah kecerdasan yang memuat kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal ini dapat dijumpai pada peseta didik yang unggul pada salah satu cabang olahraga atau bisa pula tampil pada peserta didik yang pandai menari, terampil bermain akrobat, atau unggul dalam bermain sulap.
6. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal atau kecerdasan antarpribadi menurut Gardner (2003:24) adalah kemampuan untuk memahami orang lain, misalnya apa yang memotivasi seseorang, bagaimana seseorang bekerja, dan bagaimana bekerjasama dengan orang lain.
Selanjutnya Uno dan Kuadrat (2009:13) mengungkapkan bahwa kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Kecerdasan ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial, yang selain kemampuan menjalin persahabatan yang akrab dengan teman, juga mencakup kemampuan seperti memimpin, mengorganissi, menangani perselisihan antarteman, dan memperoleh simpati dari peserta didik yang lain.
7. Kecerdasan Intrapersonal
Gardner (2003:24) mendefinisikan kecerdasan ini sebagai kecerdasan yang berkaitan dengan dalam diri pribadi. Kecerdasan ini mampu membentuk model yang akurat, percaya pada diri sendiri, dan mampu menggunakan model itu untuk beroperasi secara efektif dalam hidup.
Selanjutnya menurut English (2005:142), siswa yang memiliki kecerdasan ini dapat mengetahui kekuatan dan keterbatasannya sendiri untuk menjadi jauh lebih baik. Siswa jenis ini berorientasi pada tujuan, reflektif, dan melihat kesuksesannya sebagai hasil langsung dari perencanaan, usaha, dan ketekunannya sendiri.
8. Kecerdasan Naturalis
Uno dan Kuadrat (2009:14) menjelaskan yang dimaksud dengan kecerdasan naturalis ialah kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam yang terbuka seperti pantai, gunung, cagar alam, atau hutan. Siswa dengan kecerdasan seperti ini, cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis-jenis lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna, dan benda-benda angkasa.
F. Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences
Pembelajaran berbasis multiple intelligences harus disiapkan dengan matang. Hal-hal yang harus dilakukan antara lain (1) melakukan pengenalan terhadap inteligensi siswa, (2) mempersiapkan pembelajaran, (3) menentukan strategi pembelajaran, dan (4) menentukan evaluasi. Penjelasan mengenai keempat hal tersebut diuraikan berikut ini.
1. Mengenal Inteligensi Siswa
Banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk mengenali inteligensi atau kecerdasan siswa. Amstrong dalam Suparno (2004:79) menyatakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengenali inteligensi siswa antara lain dengan tes, mencoba mengajar dengan kecerdasan ganda, observasi siswa di kelas, observasi siswa di luar kelas, dan mengumpulkan dokumen siswa.
2. Mempersiapkan Pembelajaran
Mempersiapkan pembelajaran merupakan hal yang penting dilakukan. Tanpa persiapan, pelaksanaan pembelajaran tidak akan berhasil. Menurut Suparno (2004:87), hal yang perlu diperhatikan pada tahap persiapan pembelajaran adalah memfokuskan diri pada topik pelajaran, memilih pendekatan MI, membuat skema atau pemetaan bentuk kegiatan MI, memilih dan mengurutkan kegiatan dalam rencana pembelajaran.
Selajan dengan hal tersebut, DePorter (2005: 96) mengistilahkan pemetaan kecerdasan dengan stasiun kecerdasan SLIM-n-BIL. Istilah SLIM-n-BIL meruapakan singkatan dari S adalah spasial, L adalah linguistik, I adalah interpersonal, M adalah musikal, n adalah natural, B adalah badan, I adalah intrapersonal, dan L adalah linguistik. Lebih lanjut beliau menyarankan agar SLIM-n-BIL dianyam dalam perancangan pengajaran. Minimal ada lima kecerdasan yang terakumulasi dalam setiap rencana pembelajaran. Sistematika penyajian strategi disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dasar.
Setelah semua kemungkinan kegiatan yang berhubungan dengan MI, langkah selanjutnya adalah memilih beberapa kegiatan yang sangat tepat dilakukan dalam pembelajaran. Setelah semua selesai diurutkan dalam satu rencana pembelajaran.
Sehubungan dengan hal tersebut, Riyanto (2010:244), menjelaskan tujuh langkah menyusun rencana pembelajaran dalam menerapkan teori kecerdasan majemuk, yaitu (1)memusatkan perhatian dan tujuan pada topik tertentu; (2)menjawab pertanyaan kunci kecerdasan majemuk; (3) mempertimbangkan kemungkinan lain; (4) curah gagasan; (5) memilih kegiatan yang cocok; (6) menyusun rencana pelajaran yang berkesinambungan; (7) menjalankan rencana.
Berikut ini disajikan format perencanaan pembelajaran berbasis MI yang dikutip dari Uno dan Kuadrat ( 2009:179).
Gambar 2.1 Format Perencanaan Pembelajaran Berbasis MI
3. Strategi Pembelajaran
Menurut Hoerr (2007:18), untuk mendorong kecerdasan bahasa di kelas dapat dilakukan antara lain dengan cara mendorong penggunaan kata-kata tidak lazim, melibatkan siswa dalam debat dan presentasi lisan. Selain itu dapat pula dilakukan dengan cara menunjukkan bagaimana puisi mengungkapkan emosi.
Upaya mendorong kecerdasan logis-matematis, menurut Santrock (2010:143) dengan cara permainan logika bersama anak-anak, menciptakan situasi yang dapat memberi inspirasi anak untuk berpikir dan mengembangkan pemahaman angka. Selanjutnya, kecerdasan ini dapat pula dilakukan dengan cara mengajak anak-anak melakukan perjalanan ke lab komputer, museum iptek, dan pameran elektronik, melakukan matematika bersama anak-anak, seperti menghitung objek dan bereksperimen angka.
Menurut Santrock (2010:143), inteligensi musik dapat dilakukan dengan cara memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan tape recorder, memainkan alat musik, membuat alat musik dan irama dengan menggunakan suara dan instrumen sederhana. Selain itu, upaya mendorong cecerdasan ini adalah dengan cara mengajak anak menonton pertunjukkan musik, dan membuat lagu sendiri.
Upaya mendorong intelegensi kinestetis menurut Hoerr (2007:18) dapat dilakukan dengan cara menyediakan peluang untuk tangan dan bergerak. Selanjutnya, guru dapat memberikan kesempatan berakting, membiarkan murid bergerak selama bekerja, memanfaatkan kegiatan menjahit, membuat model dan lain-lain yang memerlukan motorik halus.
Santrock (2010:143) menjelaskan bahwa upaya mendorong kecerdasan spasial adalah dengan cara membuat berbagai macam materi kreatif untuk dipakai anak-anak, membuat teka-teki bentuk sederhana. Upaya guru mendorong kecerdasan ini dapat pula dengan cara mengajak anak ke museum, berjalan-jalan lalu memvisualkannya ketika berada di kelas.
Inteligensi interpersonal menurut Hoerr (2007:19) dapat dilakukan dengan cara menggunakan pembelajaran kerjasama, menugaskan kerja kelompok, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajar teman sebaya, mendiskusikan penyelesaian masalah, menciptakan situasi yang membuat siswa saling mengamati dan memberi masukan.
Menurut Santrock (2010:143), kecerdasan interpersonal dapat dikembangkan dengan cara mendorong anak untuk bekerja kelompok, membantu anak untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi, menyediakan permainan kelompok, dan mendorong anak untuk bergabung dengan kelompok atau sanggar. Berbeda halnya dengan interpersonal, Santrock (2010:143) menjelaskan bahwa kecerdasan intrapersonal dapat dilakukan dengan cara mendorong anak untuk punya hobi dan minat, mendengarkan perasaan anak dan memberi tanggapan, mendorong anak untuk menggunakan imajinasi mereka, dan menyuruh anak mencatat ide dan pengalaman mereka.
Kecerdasan naturalis menurut Hoerr (2007:19) dapat didorong dengan cara menggunakan alam terbuka sebagai kelas, memelihara tanaman dan binatang, mengadakan percobaan-percobaan, menciptakan daerah alam di halaman bermain. Selanjutnya, menurut Santrock (2010:143), inteligensi naturalis ini dapat dilakukan dengan cara mengajak anak ke museum ilmu alam, membuat pusat belajar alam di kelas, melibatkan anak-anak ke alam luar ruangan seperti mengamati pohon, dan mengajak anak mengumpulkan flora dan fauna serta mengelompokkannya.
4. Menentukan Evaluasi
Suparno (2004:93) berpendapat, bentuk evaluasi dalam pembelajaran yang menggunakan basis MI harus disesuaikan dengan keberagaman inteligensi siswa. Evaluasi yang hanya mementingkan salah satu intelegensi, kurang dapat mengukur seluruh kemampuan siswa. Lebih lanjut Suparno (2004:94) mengatakan bahwa bentuk evaluasi siswa yang sesuai dengan pendekatan MI adalah portofolio, penilaian selama proses belajar mengajar, soal tertulis.
Teknik-teknik penilaian yang digunakan harus dilengkapi dengan rubrik penilaian. Penyediaan rubrik penilaian merupakan salah satu prinsip dalam pembelajaran yang berbasis MI. Rubrik dapat digunakan sebagai pembimbing dalam usaha pengembangan kurikulum, atau sebagai alat untuk melihat umpan balik ketika mengamati teman sekerja di kelas. Campbell (1999:260) rubrik dapat dimanfaatkan untuk guru menilai siswa, siswa menilai dirinya sendiri, siswa memberikan umpan balik pada guru, dan siswa menilai siswa lain.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian dalam pembelajaran MI dapat dilakukan pada saat prapembelajaran, selama pembelajaran berlangsung, dan setelah proses pembelajaran berlangsung. Bentuk instrumen penilaian MI dapat berupa lembar portofolio, lembar observasi kinerja selama diskusi, selama berkelompok, selama bermain, dan selama mereka aktif berpartisifasi dalam pembelajaran, dapat pula dilakukan dalam bentuk tes tulis yang dilengkapi dengan rubrik penilaian. Kemampuan yang diukur juga harus mencerminkan kemampuan MI.
Pembelajaran Menulis Puisi dengan Realitas Objektif Berbasis Multiple Intelligences
Suyatno (2004:146) mengemukakan langkah-langkah penerapan pembelajaran menulis puisi berdasarkan objek langsung adalah sebagai berikut.
1. Guru memberikan perjelasan singkat tentang kegiatan hari itu.
2. Guru mengajak siswa untuk jalan-jalan ke luar kelas dan melihat-lihat lingkungan sekitarnya.
3. Guru menugasi siswa untuk membuat puisi berdasarkan objek yang dilihatnya dengan tema yang dipilihnya.
4. Siswa mengidentifikasi objek dan menuangkan imajinasinya ke dalam puisi berdasarkan pengamatan terhadap objek.
5. Guru dan siswa kembali ke kelas, siswa membacakan hasil pekerjaannya di depan kelas.
6. Siswa lain memberikan tanggapan tentang penampilan temannya.
7. Guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.
Tidak jauh berbeda dengan Suyatno, English (2005:184) mengemukakan pendapatnya tentang langkah-langkah menulis puisi mengenai alam berbasis MI. Secara sederhana langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Guru menjelaskan kepada siswa tentang pola-pola di alam dan di dalam tulisan.
2. Guru mempersiapkan siswa menulis cinquain (sejenis puisi lima baris).
3. Guru memastikan bahwa semua siswa telah memahami petunjuk yang diberikan guru.
4. Guru meminta siswa memilih sebuah gambar dari alam, gambar yang sudah ada di kelas atau gambar yang mereka persiapkan sendiri.
5. Guru meminta setiap siswa menulis sebuah cinquain.
6. Guru meminta siswa berkelompok untuk berbagi dan berdiskusi, mencermati, mengedit, sesuai dengan keinginan mereka.
7. Guru memberikan waktu kepada siswa membuat berbagai poster kecil yang mencirikan cinquain mereka.
Langkah-langkah menulis puisi yang dilakukan seperti dalam cinquain ini bermanfaat untuk mengembangkan kecerdasan naturalis. Untuk memenuhi kebutuhan MI, beliau menyarankan agar para siswa bekerja dalam pasangan dan bekerjasama dalam menulis cinquain pertama mereka tentang pemandangan alam. Dengan demikian, selain kecerdasan atau inteligensi naturalis, langkah-langkah yang dikemukakan oleh English ini juga merupakan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal yang dibangun melalui kerja kelompok.
Pendapat tentang langkah-langkah pembelajaran menulis puisi di atas merupakan rujukan bagi peneliti dalam merancang pembelajaran. Kemudian, peneliti menyesuaikannya dengan perencanaan pembelajaran sesuai dengan ketentuan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses. Secara garis besar, kegiatan pembelajaran dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Setiap tahap terdiri atas beberapa kegiatan yang mencerminkan MI. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memacu perkembangan inteligensi siswa yang beragam. Paling tidak ada lima kegiatan yang berhubungan MI. Penjelasan secara umum dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut.


Tabel 2.1 Langkah-Langkah Pembelajaran Menulis Puisi dengan Realitas Objektif Berbasis Multiple Intelligences
Langkah-langkah Pembelajaran Realitas Objektif Aktivitas MI
A. Kegiatan Pendahuluan
1. Guru mengajak siswa menyanyi Musik
2. Guru dan siswa bertanya jawab
3. Guru menjelaskan komptensi dasar, tujuan pembelajaran, dan indikator
4. Guru menjelaskan rincian materi dan kegiatan pembelajaran
B. Kegiatan Inti
1. Siswa membentuk kelompok Interpersonal
2. Siswa mengamati objek-objek konkret, setiap kelompok mengamati objek yang berbeda. pengalaman langsung (konkret) Naturalis
3. Siswa mendata kata atau frase tentang apa yang diindrai. pendataan kata berdasarkan objek langsung (konkret) Intrapersonal 4. Siswa menggunakan imajinasi kreatifnya sehubungan dengan kata atau frasa yang dimilikinya. kristalisasi hasil pengalaman langsung (konkret) Linguistik
5. Setiap siswa menulis puisi dengan menggunakan kata atau frasa sesuai imajinasi kreatifnya. penulisan puisi hasil pengalaman langsung (konkret) Linguistik
6. Siswa berbagi, berdiskusi, dan merevisi puisi pribadi dan teman. Interpersonal
7. Siswa menempelkan puisinya pada selembar kertas manila sesuai dengan kreativitas kelompok masing-masing. Spasial
8. Antarkelompok siswa saling menilai puisi Logis-Matematis 9. Puisi terbaik mendapat penghargaan untuk dibacakan. Linguistik
Penutup
1. Guru dan siswa merefleksi kegiatan pembelajaran. Intrapersonal

Berdasarkan tabel 2.1 tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan menulis puisi dengan realitas objektif melalui pembelajaran berbasis MI adalah pembelajaran menulis puisi yang bahan penulisannya bersumber dari pengalaman secara langsung melalui pengindraan objek kongkret dengan pengelolaan pembelajaran bertumpu pada pelibatan kecerdasan siswa yang beragam. Ciri-ciri dari pembelajaran ini adalah (1) mengamati objek konkret sebelum menulis puisi, dan (2) pembelajaran melibatkan minimal lima kecerdasan.


No comments: