Friday, February 28, 2014

Sejarah Kerajaan Kutai


a. Kehidupan politik

Kerajaan Kutai terletak di dekat Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Keberadaan kerajaan ini dapat diketahui dari tujuh buah prasasti (Yupa) yang ditemukan di Muarakaman, tepi Sungai Mahakam. Prasasti yang berbentuk yupa itu menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. 

Menurut para ahli, diperkirakan kerajaan Kutai dipengaruhi oleh kerajaan Hindu di India Selatan. Perkiraan itu didasarkan dengan membandingkan huruf di Yupa dengan prasasti-prasasti di India. Dari bentuk hurufnya, prasasti itu diperkirakan berasal dari abad ke-5 M. Apabila dibandingkan dengan prasasti di Tarumanegara, maka bentuk huruf di kerajaan Kutai jauh lebih tua.

Berdasarkan salah satu isi prasasti Yupa, kita dapat mengetahui nama-nama raja yang pernah memerintah di Kutai, yaitu Kundungga, Aswawarman dan Mulawarman. Prasasti tersebut adalah:

http://www.materi-sma.com/2014/02/sejarah-kerajaan-kutai.html“Srinatah sri-narendrasya, kundungasya mahatmanah, putro svavarmmo vikhyatah, vansakartta yathansuman, Tasya putra mahatmanah, tryas traya ivagnayah, tesn traynam prvrah, tapobala-damanvitah, sri mulavarmma rajendro,yastva bahusuvarunakam, tasya yjnasya yupo ‘yam, dvijendarais samprakalpitah.

(Sang maharaja Kundungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang masyhur, sang Aswawarman yang seperti ansuman, sang Aswawarman mempunyai tiga putra yang seperti api yang suci. Yang paling terkemuka ialah sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Dia melaksanakan selamatan dengan emas yang banyak. Untuk itulah Tugu batu ini didirikan)

b. Kehidupan ekonomi

Kehidupan ekonomi di kerajaan Kutai tergambar dalam salah satu prasasti, yang isinya, seperti berikut ini.
(Tugu ini ditulis untuk (peringatan) dua (perkara) yang telah disedekahkan oleh sang Mulawarman yakni segunung minyak, dengan lampu dan malai bunga)

Dari Isi Yupa di atas, kita dapat menemukan beberapa benda yang disedekahkan yaitu minyak, lampu, dan malai bunga. Sedekah dari raja kepada Brahmana pasti dalam jumlah yang besar. Untuk itu, diperlukan jumlah minyak, lampu dan malai bunga yang banyak. Benda-benda itu didapatkan dalam jumlah yang banyak jika ada upaya untuk memperbanyaknya. Adanya minyak dan bunga malai, kita dapat menyimpulkan bahwa sudah ada usaha dalam bidang pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Kutai. Sementara itu, lampu-lampu tersebut dihasilkan dari usaha dibidang kerajinan dan pertukangan. Hal ini menunjukkan bahwa kedua bidang usaha tersebut sudah berkembang di lingkungan masyarakat Kutai.

Begitu pula pada prasasti yang lain, berisikan sebagai berikut.
Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana yang seperti api. Bertempat didalam tanah yang sangat suci Waprakeswara, buat peringatan akan kebaikan didirikan Tugu ini)

Kehidupan ekonomi yang dapat disimpulkan dari prasasti tersebut adalah keberadaan sapi yang dipersembahkan oleh Raja Mulawarman kepada Brahmana. Keberadaan sapi menunjukkan adanya usaha peternakan yang dilakukan oleh rakyat Kutai. Arca-arca yang ditemukan oleh para arkeolog menunjukkan bahwa arca tersebut bukan berasal dari Kalimantan, tetapi berasal dari India. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sudah ada hubungan antara Kutai dan India, terutama hubungan dagang.

c. Kehidupan sosial-budaya

Pada Yupa diketemukan sebuah nama yaitu Kundungga yang tidak dikenal dalam bahasa India. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa nama tersebut merupakan nama asli daerah tersebut. Namun masih dalam yupa yang sama dijelaskan bahwa Kundungga mempunyai anak yang bernama Aswawarman yang mempunyai putra pula bernama Mulawarman. 

Dua nama terakhir merupakan nama yang mengandung unsur India, berbeda dengan nama Kundungga. Baik Kundungga, Aswawarman maupun Mulawarman merupakan raja-raja di Kutai, namun dari nama mereka dapat menunjukkan bahwa pengaruh Hindu pada keluarga kerajaan itu sudah mulai masuk pada masa Kundungga, meskipun baru menguat pada masa Aswawarman.

Bukti kebudayaan Hindu sudah mulai masuk pada masa Kundungga dapat dibuktikan dengan diberikannya nama Hindu kepada anaknya. Namun pendapat itu bisa saja tidak tepat, jika Aswawarman yang mengganti namanya sendiri, dan bukan oleh ayahnya melalui upacara vrtyastoma. Vrtyastoma adalah upacara penyucian diri dalam agama Hindu. Upacara vrtyastoma digunakan oleh orang-orang Indonesia yang terkena pengaruh Hindu untuk masuk ke dalam kasta tertentu sesuai dengan kedudukan asalnya, dan setelah upacara ini diadakan, biasanya disusul dengan pergantian nama.

d. Kepercayaan

Berdasarkan isi prasasti itu pula dapat diketahui bahwa masyarakat di Kerajaan Kutai memeluk agama Hindu. Hal itu dapat dilihat dari prasasti yang menyebutkan tempat suci yaitu Waprakeswara, yaitu tempat suci yang dihubungkan dengan Dewa Wisnu. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa agama Hindu merupakan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Kutai. Agama yang dianut di Kutai yaitu agama Hindu aliran pemuja Siwa yang diduga berasal dari India Selatan, dengan bukti adanya huruf Pallawa yang digunakan di India Selatan, serta penggunaan nama Warman yang merupakan kebiasaan dari India Selatan.

Demikianlah Materi Sejarah Kerajaan Kutai, semoga bermanfaat.

Sumber:http://www.materi-sma.com/

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya


a. Kehidupan politik


Kerajaan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan besar yang terletak di Sumatera Selatan. Menurut para ahli, pusat Kerajaan Sriwijaya ada di Palembang dan diperkirakan telah berdiri pada abad ke-7 M. Sumber sejarah kerajaan Sriwijaya berupa prasasti dan berita Cina. Sumber yang berupa prasasti terdiri atas dua, yaitu prasasti yang berasal dari dalam negeri dan prasasti yang berasal dari luar negeri.

Prasasti yang berasal dari dalam negeri antara lain: prasasti Kedukan Bukit (683 m), Talang Tuwo (684 m), Telaga Batu (683), Kota Kapur (686), Karang Berahi (686), Palas Pasemah dan Amoghapasa (1286). Sementara itu, prasasti yang berasal dari luar negeri antara lain; Ligor (775), Nalanda, Piagam Laiden, Tanjore (1030 M), Canton (1075 M), Grahi (1183 M) dan Chaiya (1230). Begitu pula sumber naskah dan buku yang berasal dari dalam negeri adalah kitab Pararaton, sedangkan dari luar negeri antara lain kitab memoir dan record karya I-Tsing, Kronik dinasti Tang, Sung, dan Ming, kitab Lingwai-tai-ta karya Chou-ku-fei dan kitab Chu-fon-chi karya Chaou- fu hua. 

http://www.materi-sma.com/2014/02/sejarah-kerajaan-sriwijaya.html
Para sejarawan masih berbeda pendapat tentang Sriwijaya yaitu awal berkembang dan berakhirnya serta lokasi ibu kotanya. Menurut Coedes, Sriwijaya berkembang pada abad ke-7 di Palembang dan runtuh pada abad ke-14. Pendapatnya didasarkan pada ditemukannya toponim Shih Li Fo Shih dan San Fo Tsi. Menurutnya Shih Li Fo Shih merupakan perkataan Cina untuk menyebut Sriwijaya. 

Sementara itu, San Fo Tsi yang ada pada sumber Cina dari abad ke-9 sampai dengan abad ke-14 merupakan kependekan dari Shih Li Fo Shih. Slamet Mulyana berpendapat lain, dia setuju dengan pendapat Coedes yang menganggap bahwa Shih Li Fo Shih adalah Sriwijaya, namun San Fo Tsi tidak sama dengan Shih Li Fo Shih. Menurutnya Sriwijaya berkembang sampai abad ke-9, dan sejak itu Sriwijaya berhasil ditaklukkan oleh San Fo Tsi (Swarnabhumi). 

Mengenai ibu kota Sriwijaya, para ahli mendasarkan pendapatnya pada daerah yang disebutkan dalam prasasti Kedukan Bukit yaitu Minanga. Prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 604 saka (682 M) ditemukan di daerah Kedukan Bukit, di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang.

Adapun isi prasasti Kedukan Bukit, adalah sebagai berikut:

Pada tahun saka 605 hari kesebelas bulan terang bulan waiseka dapunta hyang naik di perahu mengadakan perajalanan pada hari ketujuh bulan terang. Bulan jyestha dapunta hyang berangkat dari minanga. Tambahan beliau membawa tentara dua laksa (20.000), dua ratus koli di perahu, yang berjalan darat seribu, tiga ratus dua belas banyaknya datang di mukha upang, dengan senang hati, pada ghari kelima bulan terang bulan asada, dengan lega gembira datang membuat wanua ... . perajalanan jaya sriwijy memberikan kepuasan.

Poerbacaraka berpendapat bahwa Minanga adalah pertemuan antara sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri, sehingga beliau berpendapat bahwa ibu kota Sriwijaya adalah di Minangkabau. Muhammad Yamin mengartikan Minanga Tanwan adalah air tawar dan Sriwijaya ibu kotanya terletak di Palembang. Bukhori berpendapat sama dengan Muhammad Yamin bahwa ibu kota Sriwijaya terletak di sekitar daerah Palembang

Prasasti Kedukan Bukit isinya menceritakan bahwa pada tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682), Raja Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang naik perahu memimpin operasi militer. Lalu pada tanggal 7 paro terang bulan Jesta (19 Mei) Dapunta Hyang berangkat dari Minanga Tamwan untuk kembali ke ibu kota. Mereka bersukacita karena pulang dengan kemenangan. Pada tangga 5 Asada (16 Juni) mereka tiba di Muka Upang (sebelah timur Palembang). Sesampai di ibu kota, Dapunta Hyang memerintahkan pembuatan bangunan suci sebagai tanda rasa syukur.

Prasasti Ligor A (775) ditemukan di Muangthai selatan

“Pujian terhadap raja Sriwijaya yang di ibaratkan bagai Mnu yang memberi berkah bagi dunia menyerupai Indra dan semua raja tetangga taat kepadanya ditulis pula pendirian sebuah bangunan batu trisamayacahtya untuk padma, pani, sakyamuni, dan wajrpani”.

Prasasti Ligor B,

Pujian bagi raja yang berhasil menaklukkan musuh-musuhnya dan merupakan wujud kembar dewa kasta yang dengan kekuatannya disebut (sebagai dewa) Wisnu, kedua mematahkan keangkuhan semua musuhnya (Sarwarimadawimthana). Ia adalah keturunan dari (keluarga Syailendra) yang tersohor disebut Srimaharaja.”

Prasasti Ligor yang ditemukan di semenanjung tanah Melayu menceritakan tentang Raja Sriwijaya dan pembangunan trisamayacaithya untuk menyembah dewa-dewa agama Buddha, serta menyebutkan seorang raja bernama Wisnu dengan gelar Sarwarimadawimathana atau pembunuh musuh-musuh yang sombong tiada bersisa. Begitu pula prasasti Nalanda yang dikeluarkan oleh Raja Dewa Paladewa. Isinya menyebutkan tentang pendirian bangunan biara di Nalanda oleh Raja Balaputradewa, Raja Sriwijaya yang menganut agama Buddha.

Daerah kekuasaan Sriwijaya meliputi seluruh Sumatra, sebagian Jawa, Semenanjung Malaya, dan Muangthai Selatan. Dengan menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa, Kerajaan Sriwijaya menguasai jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional. Untuk itu penghasilan negara Sriwijaya terutama diperoleh dari perdagangan (komoditas ekspor dan bea cukai kapal-kapal yang singgah di wilayah Sriwijaya). Jadi, kerajaan ini lebih menitikberatkan pada bidang maritim dan perdagangan. 

Sejak pertengahan abad ke-9, Sriwijaya diperintah oleh Dinasti Syailendra. Hal ini dinyatakan dalam prasasti Nalanda di India, yang menguraikan permintaan Raja Balaputradewa dari Sriwijaya kepada Raja Dewapaladewa dari Benggala untuk mendirikan wihara di Nalanda pada tahun 860. Disebutkan juga dalam prasasti itu, bahwa Balaputradewa adalah putra Samaragrawira, yaitu raja Jawa dari Dinasti Syailendra. Prasasti kota kapur (686 M) isinya tentang cerita peperangan dan sumpah atau kutukan bagi orang-orang yang melanggar peraturan dan kehendak penguasa. Adapun yang lebih menarik tentang isi prasasti ini, ialah bagian terakhir yang berbunyi:

“Tahun saka 608 hari pertama bulan terang bulan waisaka, itulah

waktunya sumpah ini dipahat, pada waktu itu tentara Sriwijaya
berangkat tanah Jawa karena tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.”

Dari prasasti tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Sriwijaya pernah ada upaya untuk menaklukkan Jawa. Para ahli menerangkan bahwa kerajaan di Jawa yang ditaklukkan adalah Tarumanegara. Hubungan dengan India tidak bertahan lama, sebab pada awal abad ke-11 Raja Rajendracola dari Kerajaan Colamandala melakukan penyerbuan besar-besaran ke wilayah Sriwijaya, antara lain Kedah, Aceh, Nikobar, Binanga, Melayu, dan Palembang. Berita penyerangan tersebut ada dalam prasasti Tanjore di India Selatan. 

Tetapi, penyerbuan Colamandala dapat dipukul mundur atas bantuan Raja Airlangga dari Jawa Timur. Atas jasanya ini, Airlangga dinikahkan dengan Sanggramawijayatunggadewi, putri Raja Sriwijaya. Kekuatan Sriwijaya mulai menurun setelah berhasil memukul mundur pasukan Colamandala. Menurunnya kekuatan itu dapat terlihat dari ketidakmampuannya mengawasi dan memberi perlindungan bagi pelayaran dan perdagangan yang ada di perairan Indonesia. Keadaan itu dimanfaatkan juga oleh kerajaan-kerajaan vasal (bawahan) untuk melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya, seperti yang dilakukan oleh kerajaan Malayu (Jambi). Prasasti Tanjore (1030) yang dikeluarkan oleh Rjendra berisi 

Tentara Colal melakukan serangan dua kali ke beberapa negeri diantaranya ke Sriwijaya, pertama tahun 1015 dan kedua 1025. Pada serangan kedua berhasil menawan rajanya yang bernama Sri Sangramwijaya Tunggawarman, setelah meminta maaf, dia ditakhtakan kembali.

Sementara itu, prasasti Wirarajendra, yang dikeluarkan oleh Raja Cola (1068), berisikan bahwa pasukan Cola menyerang kembali Sriwijaya tahun 1067. Selanjutnya pada abad ke-13 dan ke-14, kebesaran Sriwijaya tidak pernah disebut-sebut lagi dalam sumber-sumber sejarah. Jadi, kapan Kerajaan Sriwijaya mengalami keruntuhan ? Menurut catatan Cina, utusan Sriwijaya terakhir datang ke Cina pada tahun 1178. Selain itu, pada catatan Chufan-chi yang ditulis oleh Chau Ju Kua tahun 1225 disebutkan bahwa Palembang (ibu kota Sriwijaya) telah menjadi negeri taklukan Malayu.

b. Kehidupan ekonomi


Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan terbesar di Indonesia pada masa silam. Kerajaan Sriwijaya mampu mengembangkan diri sebagai negara maritim yang pernah menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional selama berabad-abad dengan menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa. Setiap pelayaran dan perdagangan dari Asia Barat ke Asia Timur atau sebaliknya harus melewati wilayah Kerajaan Sriwijaya yang meliputi seluruh Sumatra, sebagian Jawa, Semenanjung Malaysia, dan Muangthai Selatan. Keadaan ini juga yang membawa penghasilan Kerajaan Sriwijaya terutama diperoleh dari komoditas ekspor dan bea cukai bagi kapal-kapal yang singgah di pelabuhan-pelabuhan milik Sriwijaya. Komoditas ekspor Sriwijaya antara lain kapur barus, cendana, gading gajah, buah-buahan, kapas, cula badak, dan wangi-wangian.

c. Kehidupan sosial-budaya


Prasasti Amoghpasha (1286) berbunyi 

“Pada tahun saka 1208 .....tatkala itulah arca paduka amoghappasa lokeswara dengan empat belas pengikutnya serta tujuh ratna permata dibawa dari bhumi Jawa ke suwarnabhumi supaya ditegakan. 

Sumber sejarah lain mengenai Kerajaan Sriwijaya dapat dilihat dari berita Cina. Berita itu datang dari seorang pendeta yang bernama I-Tsing yang pada tahun 671 berdiam di Sriwijaya untuk belajar tata bahasa Sanskerta sebagai persiapan kunjungannya ke India. I-Tsing menyebutkan bahwa di negeri Sriwijaya dikelilingi oleh benteng. Di negeri ini ada seribu orang pendeta yang belajar agama Buddha.

Seperi halnya di India, para pendeta Cina yang mau belajar agama ke India dianjurkan untuk belajar terlebih dahulu di Sriwijaya selama satu sampai dua tahun. Disebutkan juga bahwa para pendeta yang belajar agama Buddha di Sriwijaya dibimbing oleh seorang guru yang sangat terkenal bernama Sakyakirti. Berdasarkan berita I-Tsing dapat disimpulkan bahwa kerajaan Sriwijaya sejak abad ke-7 M merupakan pusat kegiatan ilmiah agama Buddha di Asia Tenggara.

Prasasti Nalanda berisi tentang pembebasan tanah untuk pendirian sebuah biara atas permintaan raja Swarnadiva, Balaputradewa, cucu raja Jawa berjuluk Wirawairimathana, yang berputra Samaargrawira yang menikahi putri Raja Dharmasetu. Dari prasasti-prasasti tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa raja sangat memperhatikan dunia pendidikan dalam memajukan dan mengembangkan kerajaannya. Pendidikan yang berbasis pengajaran agama Buddha disatu sisi telah membawa corak kehidupan yang khas pada masyarakat Sriwijaya

d. Kepercayaan


Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat agama Buddha di Asia Tenggara. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya biksu yang terdapat di Sriwijaya beserta pusat pendidikannya. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan, bahwa penduduk yang beragama Hindu terdapat pula di Sriwijaya. Prasasti Talang Tuo isinya menyebutkan tentang pembuatan kebun Sriksetra atas perintah Dapunta Hyang Sri Jayanasa sebagai suatu pranidhana (na ar). Di samping itu, terdapat doa dan harapan yang menunjukkan sifat agama Buddha. Sebaliknya, prasasti Karang Berahi, prasasti Telaga Batu, dan prasasti Palas Pasemah umumnya berisi doa, kutukan, dan ancaman terhadap orang yang melakukan kejahatan dan tidak taat pada peraturan Raja Sriwijaya.

Demikianlah Materi Sejarah Kerajaan Sriwijaya, semoga bermanfaat.

Sumber:http://www.materi-sma.com/

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Pemerintahan Wangsa Sanjaya dan Dinasti Syailendra

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno 

Pemerintahan Wangsa Sanjaya dan Dinasti Syailendra


0
Sejarah Indonesia mengenal dua Kerajaan Mataram, yaitu Mataram Kuno yang bercorak Hindu-Buddha dan Mataram Islam yang merupakan cikal bakal Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta. Kedua kerajaan itu berbeda dalam hal agama dan dinasti, namun kedua-duanya berkembang pada daerah yang sama yaitu di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

a. Kehidupan politik Kerajaan Mataram Kuno


http://www.materi-sma.com/2014/02/sejarah-kerajaan-mataram-kuno.html
Kerajaan Mataram Kuno dikenal sebagai kerajaan yang toleran dalam hal beragama. Sebab, di Kerajaan Mataram Lama berkembang agama Buddha dan Hindu secara berdampingan. Kerajaan ini diperintah oleh dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha. Berdasarkan interpretasi terhadap prasasti-prasasti bahwa kedua dinasti itu saling bersaing berebut pengaruh dan kadang-kadang memerintah bersama-sama. Asal usul Dinasti Sanjaya tercantum dalam prasasti Canggal (732 M) yang menyebutkan bahwa Sanjaya adalah keponakan Sanna (anak dari Sannaha). Dinasti Syailendra sendiri tercantum dalam prasasti Sojomerto (tidak berangka tahun), isinya menceritakan tentang Dapuntahyang Syailendra.

Berdasarkan Prasasti Canggal (732 M), terletak di atas Gunung Wukir, Kecamatan Salam Magelang, diketahui bahwa raja pertama dari Dinasti Sanjaya adalah Sanjaya yang memerintah di ibu kota bernama Medang. Prasasti itu juga menceritakan tentang pendirian sebuah lingga (lambang dewa Syiwa) di atas bukit di wilayah Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya pada tanggal 6 Oktober 732. 

Disebutkan juga tentang Pulau Jawa yang subur dan banyak menghasilkan gandum atau padi dan kaya akan tambang emas, yang mula-mula diperintah oleh Raja Sanna. Setelah Raja Sanna meninggal, ia digantikan oleh Raja Sanjaya, anak saudara perempuan Raja Sanna. Raja Sanjaya adalah seorang raja yang gagah berani yang telah menaklukkan raja di sekelilingnya dan menjadikan kemakmuran bagi rakyatnya . Menurut Carita Parahyangan (buku sejarah Pasundan), disebutkan Sanna berasal dari Galuh (Ciamis).

Selain prasasti Canggal, ada juga prasasti Kalasan (778 M) yang terdapat di sebelah timur Yogyakarta. Dalam prasasti itu disebutkan Raja Panangkaran dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Hal itu menunjukkan bahwa raja-raja keturunan Sanjaya termasuk keluarga Syailendra.

Prasasti Kedu ( Prasasti Mantyasih ) berangka tahun 907 M mencantumkan silsilah raja-raja yang memerintah di Kerajaan Mataram. Prasasti Kedu dibuat pada masa Raja Rakai Dyah Balitung. Adapun silsilah raja-raja yang pernah memerintah di Mataram yaitu sebagai berikut.


Menurut prasasti Kedu dapat diketahui bahwa Raja Sanjaya digantikan oleh Rakai Panangkaran. Selanjutnya salah seorang keturunan raja Dinasti Syailendra yang bernama Sri Sanggrama Dhananjaya berhasil menggeser kekuasaan Dinasti Sanjaya yang dipimpin Rakai Panangkaran pada tahun 778. Sejak saat itu, Kerajaan Mataram dikuasai sepenuhnya oleh Dinasti Syailendra.

Tahun 778 sampai dengan tahun 856 sering disebut sebagai pemerintahan selingan. Sebab, antara Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya silih berganti berkuasa. Dinasti Syailendra yang beragama Buddha mengembangkan Kerajaan Mataram Lama yang berpusat di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu mengembangkan kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah bagian Utara.

Puncak kejayaan Dinasti Sanjaya terjadi pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia mendirikan candi Prambanan dan Loro Jonggrang menurut model candi-candi Syailendra. Masa pemerintahan raja-raja Mataram setelah Dyah Balitung tidak terlalu banyak sumber yang menceritakannya. Yang dapat diketahui adalah nama-nama raja yang memerintah, yakni, Daksa (913-919), Wawa (919-924), Tulodhong (924-929), sampai Mpu Sindok pada tahun 929 M memindahkan ibu kota kerajaan dari Medang ke Daha (Jawa Timur) dan mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Isanawangsa.

b. Pemerintahan wangsa Sanjaya


Raja-raja wangsa Sanjaya, seperti dimuat dalam prasasti Mantyasih (Kedu), sebagai berikut.

1) Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (717 – 746 M) 

Raja ini adalah pendiri Kerajaan Mataram sekaligus pendiri wangsa Sanjaya. Setelah wafat, ia digantikan oleh Rakai Panangkaran.

2) Sri Maharaja Rakai Panangkaran (746 – 784 M)

Dalam prasasti Kalasan (778 M) diceritakan bahwa Rakai Panangkaran (yang dipersamakan dengan Panamkaran Pancapana) mendirikan candi Kalasan untuk memuja Dewi Tara, istri Bodhisatwa Gautama, dan candi Sari untuk dijadikan wihara bagi umat Buddha atas permintaan Raja Wisnu dari dinasti Syailendra. 

Ini menunjukkan bahwa pada masa pemerintahan raja ini datanglah dinasti Syailendra dipimpin rajanya, Bhanu (yang kemudian digantikan Wisnu), dan menyerang wangsa Sanjaya hingga melarikan diri ke Dieng, Wonosobo. Selain itu, Raja Panangkaran juga dipaksa mengubah kepercayaannya dari Hindu ke Buddha. Adapun penerus wangsa Sanjaya setelah Panangkaran tetap beragama Hindu.

3) Sri Maharaja Rakai Panunggalan (784 – 803 M)

4) Sri Maharaja Rakai Warak (803 – 827 M)

Dua raja ini tidak memiliki peran yang berarti, mungkin karena kurang cakap dalam memerintah sehingga dimanfaatkan oleh dinasti Syailendra untuk berkuasa atas Mataram. Setelah Raja Warak turun takhta sebenarnya sempat digantikan seorang raja wanita, yaitu Dyah Gula (827 – 828 M), namun karena kedudukannya hanya bersifat sementara maka jarang ada sumber sejarah yang mengungkap peranannya atas Mataram Hindu.

5) Sri Maharaja Rakai Garung (828 – 847 M)

Raja ini beristana di Dieng, Wonosobo. Ia mengeluarkan prasasti Pengging (819 M) di mana nama Garung disamakan dengan Patapan Puplar (mengenai Patapan Puplar diceritakan dalam prasasti Karang Tengah – Gondosuli).

6) Sri Maharaja Rakai Pikatan (847 – 855 M)

Raja Pikatan berusaha keras mengangkat kembali kejayaan wangsa Sanjaya dalam masa pemerintahannya. Ia menggunakan nama Kumbhayoni dan Jatiningrat (Agastya). Beberapa sumber sejarah yang menyebutkan nama Pikatan sebagai berikut.

a) Prasasti Perot, berangka tahun 850 M, menyebutkan bahwa Pikatan adalah raja yang sebelumnya bergelar Patapan.
b) Prasasti Argopuro yang dikeluarkan Kayuwangi pada tahun 864 M.
c) Tulisan pada sebelah kanan dan kiri pintu masuk candi Plaosan menyebutkan nama Sri Maharaja Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan. 

Diduga tulisan tersebut merupakan catatan perkawinan antara Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan. Sri Kahulunan diduga adalah Pramodhawardhani, putri Samaratungga, dari dinasti Syailendra. Mengenai pernikahan mereka dikisahkan kembali dalam prasasti Karang Tengah.

Rakai Pikatan sendiri mengeluarkan tiga prasasti berikut.

1) Prasasti Pereng (862 M), isinya mengenai penghormatan kepada Syiwa dan
penghormatan kepada Kumbhayoni.

2) Prasasti Code D 28, berangka tahun Wulung Gunung Sang Wiku atau 778 Saka (856 M). Isinya adalah

(1) Jatiningrat (Pikatan) menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Lokapala (Kayuwangi dalam prasasti Kedu);
(2) Pikatan mendirikan bangunan Syiwalaya (candi Syiwa), yang dimaksud adalah candi Prambanan;
(3) kisah peperangan antara Walaputra (Balaputradewa) melawan Jatiningrat (Pikatan) di mana Walaputra kalah dan lari ke Ungaran (Ratu Boko).

3) Prasasti Ratu Boko, berisi kisah pendirian tiga lingga sebagai tanda kemenangan.
Ketiga lingga yang dimaksud adalah Krttivasa Lingga (Syiwa sebagai petapa berpakaian kulit harimau), Tryambaka Lingga (Syiwa menghancurkan benteng Tripura yang dibuat raksasa), dan Hara Lingga (Syiwa sebagai dewa tertinggi atau paling berkuasa).

Sebagai raja, Pikatan berusaha menguasai seluruh Jawa Tengah, namun harus menghadapi wangsa Syailendra yang saat itu menjadi penguasa Mataram Buddha. Untuk itu, Pikatan menggunakan taktik menikahi Pramodhawardhani, putri Samaratungga, Raja Mataram dari dinasti Syailendra. Pernikahan ini memicu peperangan dengan Balaputradewa yang merasa berhak atas tahta Mataram sebagai putra Samaratungga. Balaputradewa kalah dan Rakai Pikatan menyatukan kembali kekuasaan Mataram di Jawa Tengah.

7) Sri Maharaja Kayuwangi (855 – 885 M)

Nama lain Sri Maharaja Kayuwangi adalah Lokapala. Ia mengeluarkan, antara lain, tiga prasasti berikut.

a) Prasasti Ngabean (879 M), ditemukan dekat Magelang. Prasasti ini terbuat dari tembaga.
b) Prasasti Surabaya, menyebutkan gelar Sajanotsawattungga untuk Kayuwangi.
c) Prasasti Argopuro (863 M), menyebutkan Rakai Pikatan pu Manuku berdampingan dengan nama Kayuwangi.

Dalam pemerintahannya, Kayuwangi dibantu oleh dewan penasihat merangkap staf pelaksana yang terdiri atas lima orang patih. Dewan penasihat ini diketuai seorang mahapatih.

8) Sri Maharaja Watuhumalang (894 – 898 M)

Masa pemerintahan Kayuwangi dan penerus-penerusnya sampai masa pemerintahan Dyah Balitung dipenuhi peperangan perebutan kekuasaan. Itu sebabnya, setelah Kayuwangi turun takhta, penggantinya tidak ada yang bertahan lama. 

Di antara raja-raja yang memerintah antara masa Kayuwangi dan Dyah Balitung yang tercatat dalam prasasti Kedu adalah Sri Maharaja Watuhumalang. Raja-raja sebelumnya, yaitu Dyah Taguras (885 M), Dyah Derendra (885 – 887 M), dan Rakai Gurunwangi (887 M) tidak tercatat dalam prasasti tersebut mungkin karena masa pemerintahannya terlalu singkat atau karena Balitung sendiri tidak mau mengakui kekuasaan mereka.

9) Sri Maharaja Watukura Dyah Balitung (898 – 913 M)

Raja ini dikenal sebagai raja Mataram yang terbesar. Ialah yang berhasil mempersatukan kembali Mataram dan memperluas kekuasaan dari Jawa Tengah sampai ke Jawa Timur. Dyah Balitung menggunakan beberapa nama:

a) Balitung Uttunggadewa (tercantum dalam prasasti Penampihan),
b) Rakai Watukura Dyah Balitung (tercantum dalam kitab Negarakertagama),
c) Dharmodaya Mahacambhu (tercantum dalam prasasti Kedu), dan
d) Rakai Galuh atau Rakai Halu (tercantum dalam prasasti Surabaya).

Prasasti-prasasti yang penting dari Balitung sebagai berikut.
a) Prasasti Penampihan di Kediri (898 M).
b) Prasasti Wonogiri (903 M).
c) Prasasti Mantyasih di Kedu (907 M).
d) Prasasti Djedung di Surabaya (910 M).

Sebenarnya, Balitung bukan pewaris takhta Kerajaan Mataram. Ia dapat naik takhta karena kegagahberaniannya dan karena perkawinannya dengan putri Raja Mataram. Selama masa pemerintahannya, Balitung sangat memerhatikan kesejahteraan rakyat, terutama dalam hal mata pencaharian, yaitu bercocok tanam, sehingga rakyat sangat menghormatinya.

Tiga jabatan penting yang berlaku pada masa pemerintahan Balitung adalah Rakryan i Hino (pejabat tertinggi di bawah raja), Rakryan i Halu, dan Rakryan i Sirikan. Ketiga jabatan itu merupakan tritunggal dan terus dipakai hingga zaman Kerajaan Majapahit.

Balitung digantikan oleh Sri Maharaja Daksa dan diteruskan oleh Sri Maharaja Tulodhong dan Sri Maharaja Wana. Namun, ketiga raja ini sangat lemah sehingga berakhirlah kekuasaan dinasti Sanjaya.

c. Pemerintahan dinasti Syailendra


Ketika Mataram diperintah oleh Panangkaran (wangsa Sanjaya), datanglah dinasti Syailendra ke Jawa. Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul dinasti Syailendra ini. Dr. Majumdar, Nilakanta Sastri, dan Ir. Moens berpendapat bahwa dinasti Syailendra berasal dari India. Adapun Coedes berpendapat bahwa dinasti Syailendra berasal dari Funan.

Dinasti ini lalu berhasil mendesak wangsa Sanjaya menyingkir ke Pegunungan Dieng, Wonosobo, di wilayah Jawa Tengah bagian utara. Di sanalah wangsa Sanjaya kemudian memerintah. Sementara itu, dinasti Syailendra mendirikan Kerajaan Syailendra (Mataram Buddha) di wilayah sekitar Yogyakarta dan menguasai Jawa Tengah bagian selatan.

Sumber-sumber sejarah mengenai keberadaan dinasti Syailendra sebagai berikut.
1) Prasasti Kalasan (778 M)
2) Prasasti Kelurak (782 M)
3) Prasasti Ratu Boko (856 M)
4) Prasasti Nalanda (860 M)

Raja-raja dinasti Syailendra sebagai berikut.

1) Bhanu (752 – 775 M)
Bhanu berarti matahari. Ia adalah raja Syailendra yang pertama. Namanya disebutkan dalam prasasti yang ditemukan di Plumpungan (752 M), dekat Salatiga.

2) Wisnu (775 – 782 M)
Nama Wisnu disebutkan dalam beberapa prasasti.

a) Prasasti Ligor B menyebutkan nama Wisnu yang dipersamakan dengan matahari, bulan, dan dewa Kama. Disebutkan pula gelar yang diberikan kepada Wisnu, yaitu Syailendravamsaprabhunigadata Sri Maharaja, artinya pembunuh musuh yang gagah berani.

b) Prasasti Kalasan (778 M) menyebutkan desakan dinasti Syailendra terhadap Panangkaran.

c) Prasasti Ratu Boko (778 M) menyebutkan nama Raja Dharmatunggasraya.

3) Indra (782 – 812 M)
Raja Indra mengeluarkan prasasti Kelurak (782 M) yang menyebutkan pendirian patung Boddhisatwa Manjusri, yang mencakup Triratna (candi Lumbung), Vajradhatu (candi Sewu), dan Trimurti (candi Roro Jongrang). Setelah wafat, Raja Indra dimakamkan di candi Pawon. Nama lain candi ini adalah candi Brajanala atau Wrajanala. Wrajanala artinya petir yang menjadi senjata dewa Indra.

4) Samaratungga (812 – 832 M)
Raja ini adalah raja terakhir keturunan Syailendra yang memerintah di Mataram. Ia mengeluarkan prasasti Karang Tengah yang berangka tahun Rasa Segara Krtidhasa atau 746 Saka (824 M). Dalam prasasti tersebut disebutkan nama Samaratungga dan putrinya, Pramodhawardhani. Disebutkan pula mengenai pendirian bangunan Jimalaya (candi Prambanan) oleh Pramodhawardhani.

Nama Samaratungga juga disebutkan dalam prasasti Nalanda (860 M) yang menceritakan pendirian biara di Nalanda pada masa pemerintahan Raja Dewapaladewa (Kerajaan Pala, India). Pada masa pemerintahannya, Samaratungga membangun candi Borobudur yang merupakan candi besar agama Buddha. Samaratungga kemudian digantikan oleh Rakai Pikatan, suami Pramodhawardhani yang berasal dari wangsa Sanjaya. Kembalilah kekuasaan wangsa Sanjaya atas Mataram Kuno sepenuhnya.

d. Kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Kuno


Letak kerajaan Mataram yang terisolasi menyebabkan perekonomian kerajaan itu sulit untuk berkembang dengan baik. Selain itu, transportasi dari pesisir ke pedalaman sulit untuk dilakukan karena keadaan sungainya. Dengan demikian, perekonomian rakyat banyak yang mengandalkan sektor agraris daripada perdagangan, apalagi perdagangan internasional. Dengan keadaan tersebut, wajar bila Raja Kayuwangi berusaha untuk memajukan sektor pertanian, sebab dengan sektor inilah, perekonomian rakyat dapat dikembangkan.

Berdasarkan prasasti Purworejo (900 M) disebutkan bahwa Raja Belitung memerintahkan pendirian pusat-pusat perdagangan. Pendirian pusat-pusat perdagangan tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan perekonomian masyarakat, baik di sektor pertanian dan perdagangan. Selain itu, dimaksudkan agar menarik para pedagang dari daerah lain untuk mau berdagang di Mataram.

Prasasti Wonogiri (903 M) menceritakan tentang dibebaskannya desa-desa di daerah pinggiran sungai Bengawan Solo apabila penduduk setempat mampu menjamin kelancaran lalu lintas di sungai tersebut. Terjaminnya sarana pengangkutan atau transportasi merupakan kunci untuk mengembangkan perekonomian dan membuka hubungan dagang dengan dunia luar. Dengan demikian, usaha-usaha mengembangkan sektor perekonomian terus diusahakan oleh raja Mataram demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya.

e. Kehidupan sosial-budaya Kerajaan Mataram Kuno


Struktur sosial masyarakat Mataram Kuno tidak begitu ketat, sebab seorang Brahmana dapat menjadi seorang pejabat seperti seorang ksatria, ataupun sebaliknya seorang Ksatria bisa saja menjadi seorang pertapa. Dalam masyarakat Jawa, terkenal dengan kepercayaan bahwa dunia manusia sangat dipengaruhi oleh alam semesta (sistem kosmologi). Dengan demikian, segala yang terjadi di alam semesta ini akan berpengaruh pada kehidupan manusia, begitu pula sebaliknya. 

http://www.materi-sma.com/2014/02/sejarah-kerajaan-mataram-kuno.htmlOleh karena itu, untuk keserasian alam semesta dan kehidupan manusia maka harus dijalin hubungan yang harmonis antara alam semesta dan manusia, begitu pula antara sesama manusia. Sistem kosmologi juga menjadikan raja sebagai penguasa tertinggi dan penjelmaan kekuatan dewa di dunia. Seluruh kekayaan yang ada di tanah kerajaan adalah milik raja, dan rakyat wajib membayar upeti dan pajak pada raja. Sebaliknya raja harus memerintah secara arif dan bijaksana.

Dalam bidang kebudayaan, Mataram Kuno banyak menghasilkan karya yang berupa candi. Pada masa pemerintahan Raja Sanjaya, telah dibangun beberapa candi antara lain: Candi Arjuna, Candi Bima dan Candi Nakula. Pada masa Rakai Pikatan, dibangun Candi Prambanan. Candi-candi lain yang dibangun pada masa Mataram Kuno antara lain Candi Borobudur, Candi Gedongsongo, Candi Sambisari, dan Candi Ratu Baka.

f. Kepercayaan Kerajaan Mataram Kuno


Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, banyak didirikan candi-candi yang bercorak Hindu dan Buddha. Pernikahannya dengan Pramodhawardhani tidak menyurutkan Rakai Pikatan untuk berpindah agama. Ia tetap memeluk agama Hindu dan permaisurinya beragama Buddha. Pembangunan candi-candi dilakukan dengan bekerja sama. Pramodhawardhani yang bergelar Sri Kahulunan banyak mendirikan candi yang bersifat Buddha, sedangkan suaminya (Rakai Pikatan) banyak mendirikan candi yang bersifat Hindu.

Demikianlah Materi Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, semoga bermanfaat.

Sumber:http://www.materi-sma.com/

Wednesday, February 26, 2014

Menulis Puisi Berasosiasi Realitas Objek

Istilah realitas objektif  ini berasosiasi dengan objek langsung, objek konkret dan realitas kehidupan. Menurut Djojosuroto (2009:21) menulis kreatif puisi melalui realitas objektif adalah menulis puisi yang bahannya bersumber dari peristiwa yang pernah dialami, dilihat, didengar, atau dibaca. Pengalaman-pengalaman pribadi tersebut dapat menjadi sumber inspirasi penulisan puisi.
Sehubungan dengan hal tersebut Tjahjono (2003:37) mengatakan bahwa bahan puisi adalah realitas kehidupan dan pengalaman sehari-hari. Lebih lanjut beliau mencontohkan, ketika duduk di kamar tamu, di luar hujan, air hujan jatuh dari jendela, dapat ditulis puisi:
SAJAK HUJAN
Kaki-kaki hujan
Memukuli kaca jendela
Tik-taknya sampai ke dalam
Jiwa
(Tjahjono,2003:37)
Istilah lain yang berasosiasi dengan istilah realitas objektif adalah objek konkret. Setiawan, dkk. (2003:14) menjelaskan bahwa objek konkret dapat menjadi sumber inspirasi penulisan puisi. Objek konkret yang diindrai misalnya gunung, pengemis, penjaja koran, kupu-kupu, anak sekolah, dan yang lain dapat dijadikan bahan pokok penulisan puisi. Caranya adalah dengan mendeskripsikan seluk beluk objek tersebut. Pendeskripsian tersebut sebaiknya dilakukan dengan bahasa yang emotif.
Di samping istilah objek konkret, istilah lain yang berasosiasi dengan realitas objektif adalah objek langsung. Suyatno (2004:132) mengatakan bahwa menulis puisi dengan objek yang dilihat secara langsung dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Dalam pembelajaran di kelas siswa diajak ke luar kelas untuk melihat objek yang mereka senangi kemudian menuliskannya ke dalam puisi.
Dalam proses penciptaan puisi juga dapat dilihat bagaimana sikap penyair dalam mengahadapi realitas sebagai bahan penulisan. Tjahjono (2003:47) mengelompokkannya menjadi empat. Penjelasan dan concohnya adalah sebagai berikut.
Pertama, penyair sebatas merekam peristiwa atau fenomena alam. Contohnya seperti terlihat dalam puisi Hazim Amir berikut ini.
KESENDIRIAN
seorang anak tidur gelisah
ketika tangan kecilnya menggapai-gapai kesebelah
tak didapatinya ibunya di sana
(Tjahjono, 2003:47)
Kedua, penyair memakai realitas sebagai media untuk mengungkapkan gagasan atau perasaan tertentu. Contohnya seperti dalam puisi Tengsoe Tjahjono berikut.
GELAS AQUA DI SELAT MADURA
ketika feri meninggalkan dermaga kepingan-kepingan
ombak menjelma celurit mematuk-matuk buritan. ada darah
mengaliri udara di sela teriakan para asongan melawan
bau keringat dan bising yang liat
.... (Tjahjono, 2003:47)
Ketiga, gagasan yang dikemukakan oleh penyair secara telanjang dan terbuka, seperti dalam puisi kutipan puisi Aming Aminoedin dalam Tjahjono (2003:51) berikut.
TELEVISI
kotak kaca ajaib itulah
yang telah menyulap tingkah
anakku jadi pandai
berulah
kotak ajaib itu pula
yang menjadi guru
bagi anak-anakku
bertingkah laku
melangkahkan sopan santun
jadi tak beruntun
... Keempat, gagasan atau realitas diungkapkan dengan mendayagunakan potensi bahasa yang unik dan menarik. Contohnya dapat dilihat pada puisi-Tengsoe Tjahjono berikut.
REQUIEM AETERNAM
secuil lempung ini kubuat bentuk tubuhmu lamat-lamat
kusuruh menyanyi menari bersama gesekan biola
yang menerjemahkan kata-kata bersama bulan yang miskram
telah disiapkan sebuah tempayan bolong pantatnya
menadahi ceceran-ceceran air mata menjelma mata air
yang kau pakai berkubang saban hari
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa menulis puisi dengan realitas objektif adalah menulis puisi yang bersumber dari pengalaman secara langsung melalui pengindraan objek-objek konkret. Langkah-langkahnya yaitu dengan menggamati objek secara langsung, memperkaya kosakata, merangkai kata-kata, menggunakan imajinasi kreatif, dan menuliskannya dalam wujud puisi. Dalam proses penciptaannya, realitas pengalaman tersebut dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu (1) realitas digunakan sebatas merekam peristiwa atau fenomena alam, (2) realitas digunakan sebagai media untuk mengungkapkan gagasan atau perasaan tertentu, (3) relitas digunakan secara telanjang dan terbuka, dan (4) realitas digunakan dengan mendayagunakan potensi bahasa yang unik dan menarik.
Teori Multiple Intelligences (MI) dalam penelitian ini berangkat dari teori Dr. Howard Gardner, guru besar di bidang Psikologi dan Pendidikan dari Harvard University. Kata multiple jika penulisannya diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi multi berarti banyak dan intelligence menjadi inteligensi atau kecerdasan. Beberapa penulis Indonesia menerjemahkan multiple intelligences ke dalam bahasa Indonesia berarti kecerdasan majemuk, kecerdasan berganda, dan ada pula yang menerjemahkan dengan kecerdasan beragam.
Menurut Gardner (2003:22) kecerdasan (intellegence) adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah, atau menciptakan produk yang berharga dalam satu atau beberapa lingkungan budaya dan masyarakat. Dalam defenisinya ini, Gardner tidak menyinggung apakah kecerdasan merupakan sifat bawaan atau di kembangkan. Melihat defenisi kecerdasan yang dikemukan Gardner tersebut, jelas sekali teorinya lebih menekankan pada kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau produk bukan pada yang lain seperti tes IQ.
Gardner (2003:23) dalam bukunya “Multiple Intelegences” mengklasifikasikan kecerdasan ke dalam tujuh jenis. Ketujuh jenis kecerdasan tersebut adalah bahasa (linguistik), logika-matematika, ruang (spasial), musik, gerak badan (kinestetik), antarpribadi, dan intrapribadi. Kemudian Brown (2007:116) menjelaskan bahwa Gardner telah menambah satu lagi kecerdasan yaitu kecerdasan naturalis, dan kemungkinan lebih jauh akan muncul kecerdasan spritual, eksistensional, dan moral. Dengan demikian, sekarang teori Gardner tentang MI ini ada delapan kecerdasan. Kecerdasan yang dimaksud adalah bahasa (linguistik), logis-matematis, ruang (spasial), musikal, gerak badan (kinestetik), antarpribadi (interpersonal), intrapribadi (intrapersonal), dan lingkungan (naturalis). Sehubungan dengan hal tersebut, dalam penelitian ini digunakan delapan kecerdasan yang paling populer. Penjelasan delapan kecerdasan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Kecerdasan Bahasa (Linguistik)
Uno dan Kuadrat (2009: 12) mengatakan bahwa kecerdasan linguistik memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasannya. Menurut Hoer (2007:18), siswa yang memiliki kecerdasan linguistik senang melakukan hal-hal seperti menulis cerita dan essai, menceriatakan lelucon, cerita, plesetan, menggunakan kosakata luas, bermain word game, menggunakan kata untuk menggambarkan sebuah cerita.
2. Kecerdasan Logis Matematis
Menurut Gardner (2003:23) kecerdasan logis matematis adalah kemampuan seseorang pada logika dan matematika. Uno dan Kuadrat (2009:11) menjelaskan kecerdasan logis matematis memuat kemampuan seseorang dalam berpikir secara induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir. Peserta didik dengan kecerdasan logis matematis tinggi cenderung menyenangi kegiatan menganalisis dan mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu. Ia menyenangi berpikir secara konseptual, misalnya menyusun hipotesis, dan mengadakan ketegorisasi, dan klasifikasi terhadap apa yang dihadapinya.Peserta didik semacam ini cenderung menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan problem matematika. Apabila kurang memahami, mereka akan cenderung berusaha untuk bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya tersebut. Peserta didik ini juga sangat menyukai berbagai permainan yang banyak melibatkan kegiatan berpikir aktif, seperti catur dan bermain teka-teki.
3. Kecerdasan Visual (Spasial)
Gardner (2003:24) mendefinisikan kecerdasan ruang adalah kecerdasan kemampuan membentuk model mental dari dunia ruang dan mampu melakukan berbagai tindakan dan operasi menggunakan model itu. Santrock (2010:25) menambahkan, kemampuan ini adalah kemampuan berpikir tiga dimensi. Hoer (2007:19) menggolongkan kecerdasan ini berkaitan dengan kesenangan siswa mencoret-coret, melukis atau menggambar, menciptakan tampilan tiga dimensi, mengamati dan menciptakan peta dan diagram, membongkar dan menyusun kembali barang-barang.
4. Kecerdasan Musikal
English (2005:52) mendefinisikan kecerdasan musikal adalah kecerdasan yang terkait dengan bahasa yang diukur dengan sensitivitas yang dimiliki seseorang terhadap susunan suara dan kemampuan merespon pola-pola suara ini secara emosional. Kecerdasan ini berkembang saat orang mulai belajar pola titinada, nada, warna, dan irama. Selanjutnya Uno dan Kuadrat (2009:12) menjelaskan bahwa kecerdasan musikal adalah kecerdasan yang memuat kemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada disekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama. Peserta didik jenis ini cenderung senang sekali mendengarkan nada dan irama yang indah, entah melalui senandung yang dilagukannya sendiri, mendengarkan tape recorder, radio, pertunjukan orkestra, atau alat musik yang dimainkannya sendiri. Mereka juga lebih mudah mengingat sesuatu dan mengekspresikan gagasan-gagasan apabila dikaitkan dengan musik.
5. Kecerdasan Kinestetis
Gardner (2003:24) mendefinisikan kecerdasan kenestetis (gerakan badan) adalah kemampuan menyelesaikan masalah atau produk mode menggunakan seluruh badan seseorang atau sebagian badan. Uno dan Kuadrat (2009:13) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan kinestetis adalah kecerdasan yang memuat kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal ini dapat dijumpai pada peseta didik yang unggul pada salah satu cabang olahraga atau bisa pula tampil pada peserta didik yang pandai menari, terampil bermain akrobat, atau unggul dalam bermain sulap.
6. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal atau kecerdasan antarpribadi menurut Gardner (2003:24) adalah kemampuan untuk memahami orang lain, misalnya apa yang memotivasi seseorang, bagaimana seseorang bekerja, dan bagaimana bekerjasama dengan orang lain.
Selanjutnya Uno dan Kuadrat (2009:13) mengungkapkan bahwa kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Kecerdasan ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial, yang selain kemampuan menjalin persahabatan yang akrab dengan teman, juga mencakup kemampuan seperti memimpin, mengorganissi, menangani perselisihan antarteman, dan memperoleh simpati dari peserta didik yang lain.
7. Kecerdasan Intrapersonal
Gardner (2003:24) mendefinisikan kecerdasan ini sebagai kecerdasan yang berkaitan dengan dalam diri pribadi. Kecerdasan ini mampu membentuk model yang akurat, percaya pada diri sendiri, dan mampu menggunakan model itu untuk beroperasi secara efektif dalam hidup.
Selanjutnya menurut English (2005:142), siswa yang memiliki kecerdasan ini dapat mengetahui kekuatan dan keterbatasannya sendiri untuk menjadi jauh lebih baik. Siswa jenis ini berorientasi pada tujuan, reflektif, dan melihat kesuksesannya sebagai hasil langsung dari perencanaan, usaha, dan ketekunannya sendiri.
8. Kecerdasan Naturalis
Uno dan Kuadrat (2009:14) menjelaskan yang dimaksud dengan kecerdasan naturalis ialah kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam yang terbuka seperti pantai, gunung, cagar alam, atau hutan. Siswa dengan kecerdasan seperti ini, cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis-jenis lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna, dan benda-benda angkasa.
F. Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences
Pembelajaran berbasis multiple intelligences harus disiapkan dengan matang. Hal-hal yang harus dilakukan antara lain (1) melakukan pengenalan terhadap inteligensi siswa, (2) mempersiapkan pembelajaran, (3) menentukan strategi pembelajaran, dan (4) menentukan evaluasi. Penjelasan mengenai keempat hal tersebut diuraikan berikut ini.
1. Mengenal Inteligensi Siswa
Banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk mengenali inteligensi atau kecerdasan siswa. Amstrong dalam Suparno (2004:79) menyatakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengenali inteligensi siswa antara lain dengan tes, mencoba mengajar dengan kecerdasan ganda, observasi siswa di kelas, observasi siswa di luar kelas, dan mengumpulkan dokumen siswa.
2. Mempersiapkan Pembelajaran
Mempersiapkan pembelajaran merupakan hal yang penting dilakukan. Tanpa persiapan, pelaksanaan pembelajaran tidak akan berhasil. Menurut Suparno (2004:87), hal yang perlu diperhatikan pada tahap persiapan pembelajaran adalah memfokuskan diri pada topik pelajaran, memilih pendekatan MI, membuat skema atau pemetaan bentuk kegiatan MI, memilih dan mengurutkan kegiatan dalam rencana pembelajaran.
Selajan dengan hal tersebut, DePorter (2005: 96) mengistilahkan pemetaan kecerdasan dengan stasiun kecerdasan SLIM-n-BIL. Istilah SLIM-n-BIL meruapakan singkatan dari S adalah spasial, L adalah linguistik, I adalah interpersonal, M adalah musikal, n adalah natural, B adalah badan, I adalah intrapersonal, dan L adalah linguistik. Lebih lanjut beliau menyarankan agar SLIM-n-BIL dianyam dalam perancangan pengajaran. Minimal ada lima kecerdasan yang terakumulasi dalam setiap rencana pembelajaran. Sistematika penyajian strategi disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dasar.
Setelah semua kemungkinan kegiatan yang berhubungan dengan MI, langkah selanjutnya adalah memilih beberapa kegiatan yang sangat tepat dilakukan dalam pembelajaran. Setelah semua selesai diurutkan dalam satu rencana pembelajaran.
Sehubungan dengan hal tersebut, Riyanto (2010:244), menjelaskan tujuh langkah menyusun rencana pembelajaran dalam menerapkan teori kecerdasan majemuk, yaitu (1)memusatkan perhatian dan tujuan pada topik tertentu; (2)menjawab pertanyaan kunci kecerdasan majemuk; (3) mempertimbangkan kemungkinan lain; (4) curah gagasan; (5) memilih kegiatan yang cocok; (6) menyusun rencana pelajaran yang berkesinambungan; (7) menjalankan rencana.
Berikut ini disajikan format perencanaan pembelajaran berbasis MI yang dikutip dari Uno dan Kuadrat ( 2009:179).
Gambar 2.1 Format Perencanaan Pembelajaran Berbasis MI
3. Strategi Pembelajaran
Menurut Hoerr (2007:18), untuk mendorong kecerdasan bahasa di kelas dapat dilakukan antara lain dengan cara mendorong penggunaan kata-kata tidak lazim, melibatkan siswa dalam debat dan presentasi lisan. Selain itu dapat pula dilakukan dengan cara menunjukkan bagaimana puisi mengungkapkan emosi.
Upaya mendorong kecerdasan logis-matematis, menurut Santrock (2010:143) dengan cara permainan logika bersama anak-anak, menciptakan situasi yang dapat memberi inspirasi anak untuk berpikir dan mengembangkan pemahaman angka. Selanjutnya, kecerdasan ini dapat pula dilakukan dengan cara mengajak anak-anak melakukan perjalanan ke lab komputer, museum iptek, dan pameran elektronik, melakukan matematika bersama anak-anak, seperti menghitung objek dan bereksperimen angka.
Menurut Santrock (2010:143), inteligensi musik dapat dilakukan dengan cara memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan tape recorder, memainkan alat musik, membuat alat musik dan irama dengan menggunakan suara dan instrumen sederhana. Selain itu, upaya mendorong cecerdasan ini adalah dengan cara mengajak anak menonton pertunjukkan musik, dan membuat lagu sendiri.
Upaya mendorong intelegensi kinestetis menurut Hoerr (2007:18) dapat dilakukan dengan cara menyediakan peluang untuk tangan dan bergerak. Selanjutnya, guru dapat memberikan kesempatan berakting, membiarkan murid bergerak selama bekerja, memanfaatkan kegiatan menjahit, membuat model dan lain-lain yang memerlukan motorik halus.
Santrock (2010:143) menjelaskan bahwa upaya mendorong kecerdasan spasial adalah dengan cara membuat berbagai macam materi kreatif untuk dipakai anak-anak, membuat teka-teki bentuk sederhana. Upaya guru mendorong kecerdasan ini dapat pula dengan cara mengajak anak ke museum, berjalan-jalan lalu memvisualkannya ketika berada di kelas.
Inteligensi interpersonal menurut Hoerr (2007:19) dapat dilakukan dengan cara menggunakan pembelajaran kerjasama, menugaskan kerja kelompok, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajar teman sebaya, mendiskusikan penyelesaian masalah, menciptakan situasi yang membuat siswa saling mengamati dan memberi masukan.
Menurut Santrock (2010:143), kecerdasan interpersonal dapat dikembangkan dengan cara mendorong anak untuk bekerja kelompok, membantu anak untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi, menyediakan permainan kelompok, dan mendorong anak untuk bergabung dengan kelompok atau sanggar. Berbeda halnya dengan interpersonal, Santrock (2010:143) menjelaskan bahwa kecerdasan intrapersonal dapat dilakukan dengan cara mendorong anak untuk punya hobi dan minat, mendengarkan perasaan anak dan memberi tanggapan, mendorong anak untuk menggunakan imajinasi mereka, dan menyuruh anak mencatat ide dan pengalaman mereka.
Kecerdasan naturalis menurut Hoerr (2007:19) dapat didorong dengan cara menggunakan alam terbuka sebagai kelas, memelihara tanaman dan binatang, mengadakan percobaan-percobaan, menciptakan daerah alam di halaman bermain. Selanjutnya, menurut Santrock (2010:143), inteligensi naturalis ini dapat dilakukan dengan cara mengajak anak ke museum ilmu alam, membuat pusat belajar alam di kelas, melibatkan anak-anak ke alam luar ruangan seperti mengamati pohon, dan mengajak anak mengumpulkan flora dan fauna serta mengelompokkannya.
4. Menentukan Evaluasi
Suparno (2004:93) berpendapat, bentuk evaluasi dalam pembelajaran yang menggunakan basis MI harus disesuaikan dengan keberagaman inteligensi siswa. Evaluasi yang hanya mementingkan salah satu intelegensi, kurang dapat mengukur seluruh kemampuan siswa. Lebih lanjut Suparno (2004:94) mengatakan bahwa bentuk evaluasi siswa yang sesuai dengan pendekatan MI adalah portofolio, penilaian selama proses belajar mengajar, soal tertulis.
Teknik-teknik penilaian yang digunakan harus dilengkapi dengan rubrik penilaian. Penyediaan rubrik penilaian merupakan salah satu prinsip dalam pembelajaran yang berbasis MI. Rubrik dapat digunakan sebagai pembimbing dalam usaha pengembangan kurikulum, atau sebagai alat untuk melihat umpan balik ketika mengamati teman sekerja di kelas. Campbell (1999:260) rubrik dapat dimanfaatkan untuk guru menilai siswa, siswa menilai dirinya sendiri, siswa memberikan umpan balik pada guru, dan siswa menilai siswa lain.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian dalam pembelajaran MI dapat dilakukan pada saat prapembelajaran, selama pembelajaran berlangsung, dan setelah proses pembelajaran berlangsung. Bentuk instrumen penilaian MI dapat berupa lembar portofolio, lembar observasi kinerja selama diskusi, selama berkelompok, selama bermain, dan selama mereka aktif berpartisifasi dalam pembelajaran, dapat pula dilakukan dalam bentuk tes tulis yang dilengkapi dengan rubrik penilaian. Kemampuan yang diukur juga harus mencerminkan kemampuan MI.
Pembelajaran Menulis Puisi dengan Realitas Objektif Berbasis Multiple Intelligences
Suyatno (2004:146) mengemukakan langkah-langkah penerapan pembelajaran menulis puisi berdasarkan objek langsung adalah sebagai berikut.
1. Guru memberikan perjelasan singkat tentang kegiatan hari itu.
2. Guru mengajak siswa untuk jalan-jalan ke luar kelas dan melihat-lihat lingkungan sekitarnya.
3. Guru menugasi siswa untuk membuat puisi berdasarkan objek yang dilihatnya dengan tema yang dipilihnya.
4. Siswa mengidentifikasi objek dan menuangkan imajinasinya ke dalam puisi berdasarkan pengamatan terhadap objek.
5. Guru dan siswa kembali ke kelas, siswa membacakan hasil pekerjaannya di depan kelas.
6. Siswa lain memberikan tanggapan tentang penampilan temannya.
7. Guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.
Tidak jauh berbeda dengan Suyatno, English (2005:184) mengemukakan pendapatnya tentang langkah-langkah menulis puisi mengenai alam berbasis MI. Secara sederhana langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Guru menjelaskan kepada siswa tentang pola-pola di alam dan di dalam tulisan.
2. Guru mempersiapkan siswa menulis cinquain (sejenis puisi lima baris).
3. Guru memastikan bahwa semua siswa telah memahami petunjuk yang diberikan guru.
4. Guru meminta siswa memilih sebuah gambar dari alam, gambar yang sudah ada di kelas atau gambar yang mereka persiapkan sendiri.
5. Guru meminta setiap siswa menulis sebuah cinquain.
6. Guru meminta siswa berkelompok untuk berbagi dan berdiskusi, mencermati, mengedit, sesuai dengan keinginan mereka.
7. Guru memberikan waktu kepada siswa membuat berbagai poster kecil yang mencirikan cinquain mereka.
Langkah-langkah menulis puisi yang dilakukan seperti dalam cinquain ini bermanfaat untuk mengembangkan kecerdasan naturalis. Untuk memenuhi kebutuhan MI, beliau menyarankan agar para siswa bekerja dalam pasangan dan bekerjasama dalam menulis cinquain pertama mereka tentang pemandangan alam. Dengan demikian, selain kecerdasan atau inteligensi naturalis, langkah-langkah yang dikemukakan oleh English ini juga merupakan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal yang dibangun melalui kerja kelompok.
Pendapat tentang langkah-langkah pembelajaran menulis puisi di atas merupakan rujukan bagi peneliti dalam merancang pembelajaran. Kemudian, peneliti menyesuaikannya dengan perencanaan pembelajaran sesuai dengan ketentuan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses. Secara garis besar, kegiatan pembelajaran dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Setiap tahap terdiri atas beberapa kegiatan yang mencerminkan MI. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memacu perkembangan inteligensi siswa yang beragam. Paling tidak ada lima kegiatan yang berhubungan MI. Penjelasan secara umum dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut.


Tabel 2.1 Langkah-Langkah Pembelajaran Menulis Puisi dengan Realitas Objektif Berbasis Multiple Intelligences
Langkah-langkah Pembelajaran Realitas Objektif Aktivitas MI
A. Kegiatan Pendahuluan
1. Guru mengajak siswa menyanyi Musik
2. Guru dan siswa bertanya jawab
3. Guru menjelaskan komptensi dasar, tujuan pembelajaran, dan indikator
4. Guru menjelaskan rincian materi dan kegiatan pembelajaran
B. Kegiatan Inti
1. Siswa membentuk kelompok Interpersonal
2. Siswa mengamati objek-objek konkret, setiap kelompok mengamati objek yang berbeda. pengalaman langsung (konkret) Naturalis
3. Siswa mendata kata atau frase tentang apa yang diindrai. pendataan kata berdasarkan objek langsung (konkret) Intrapersonal 4. Siswa menggunakan imajinasi kreatifnya sehubungan dengan kata atau frasa yang dimilikinya. kristalisasi hasil pengalaman langsung (konkret) Linguistik
5. Setiap siswa menulis puisi dengan menggunakan kata atau frasa sesuai imajinasi kreatifnya. penulisan puisi hasil pengalaman langsung (konkret) Linguistik
6. Siswa berbagi, berdiskusi, dan merevisi puisi pribadi dan teman. Interpersonal
7. Siswa menempelkan puisinya pada selembar kertas manila sesuai dengan kreativitas kelompok masing-masing. Spasial
8. Antarkelompok siswa saling menilai puisi Logis-Matematis 9. Puisi terbaik mendapat penghargaan untuk dibacakan. Linguistik
Penutup
1. Guru dan siswa merefleksi kegiatan pembelajaran. Intrapersonal

Berdasarkan tabel 2.1 tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan menulis puisi dengan realitas objektif melalui pembelajaran berbasis MI adalah pembelajaran menulis puisi yang bahan penulisannya bersumber dari pengalaman secara langsung melalui pengindraan objek kongkret dengan pengelolaan pembelajaran bertumpu pada pelibatan kecerdasan siswa yang beragam. Ciri-ciri dari pembelajaran ini adalah (1) mengamati objek konkret sebelum menulis puisi, dan (2) pembelajaran melibatkan minimal lima kecerdasan.